Taktik baru kampanye Jepang


Apakah anda percaya pria ini, pertanyaan LDP

Apakah anda percaya pria ini, pertanyaan LDP

Satu kartun di situs internet Partai Liberal Demokrat, LDP, menampilkan seorang pria muda perlente makan malam dengan seorang perempuan.

Aku akan membuatmu bahagia jika kamu memilihku, ujar pria itu. Saya akan membayar kesehatan anak, pendidikan, pensiunmu di hari tua.

Bagaimana kau bisa membayar itu semua, tanya perempuan itu. Akan aku pikirkan jika kita sudah menikah, jawab sang pria.

Pria dalam kartun itu mirim Yuko Hatoyama, ketua Partai Demokrat Jepang, DPJ, saat masih muda, dan kartun ini memang bertujuan mengirim pesan bahwa DPJ tidak bisa dipercaya untuk menjalankan negara.

Ini adalah satu dari sejumlah taktik baru yang dikerahkan menjelang pemilihan umum tanggal 30 Agustus, yang bisa membuat LDP untuk kedua kali dalam setengah abad tersingkir dari kursi kekuasaan.

Partai besar yang sedang kesulitan, akibat skandal dan krisis ekonomi ini mendapat lawan oposisi terkuat.

Pemilu ini akan menjadi persaingan dua partai yang kompetitif pertama sejak perang berakhir.

Disaat periode resmi kampanye dimulai, tampak jelas kedua partai mencoba beradaptasi dengan perubahan besar-besaran di kalangan para pemilih untuk mendapat suara.

Hubungan daerah lokal

Selama bertahun-tahun, dominasi LDP membuat hasil pemilu tidak pernah mengejutkan.

Serikat buruh dan jaringan daerah, yang diiming-imingi imbalan, selalu mendukung calon partai ini dan semua komunitas pun mengikuti pilihan yang sama ini.

Dukungan dikumpulkan untuk memastikan kandidat LDP menang di berbagai konsituensi.

“memang anggota partai lain pun ada yang terpilih, tetapi mereka tidak pernah bisa menjadi mayoritas. Jadi persaingan yang ada pada dasarnya adalah antara kandidat LDP sendiri,” ujar Kazuhiro Soda, sutradara film dokumenter Campaign, yang bercerita soal proses pemilu di Jepang.

“Dulu Partai tidak benar-benar harus menarik pemilih dalam kebijakan tertentu. Kandidat hanya harus menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan dengan pemilih dan mendapat dukungan dari kelompok-kelompok lokal.”

Para kandidat berjabat tangan di stasiun dan acara daerah. Mereka mengendarai truk pemilu, meneriakkan nama dan partai mereka lewat pengeras suara terus menerus.

Taro Aso

Disaat perekonomian berkembang bagus, taktik ini berhasil. Namun masalah mulai muncul di awal tahun 1990 an, saat perekonomian Jepang mulai melemah.

Warga pemilih meninggalkan LDP, sehingga sejumlah partai kecil bisa membentuk koalisi untuk bisa berkuasa.

Memang kekuasaan merekha hanya sembilan bula – namun variasi ini menandakan satu perubahan.

Gaya Koizumi

Disaat LDP kesulitan menyesuaikan diri dengan realitas ekonomi baru, partai-partai kecil mulai tumbuh menjadi oposisi yang lebih dianggap, dan pada tahun 1998, empat partai bergabung untuk membentuk DPJ.

Warga pindah ke kota-kota, menghancurkan jaringan pemilih setempat LDP.

Skandal korupsi membuat para pemilih bersikap sinis, proyek-proyek lokal seperti jalan pedesaan, jembatan dan bendungan, mulai tidak manarik dibandingkan jaring kesejahteraan yang kuat.

Disaat bersamaan, sistem itu berubah menjadi perwakilan satu kursi, ditambah perwakilan proposional.

Pemilu Jepang pun mulai tampak berkembang ke arah bentuk yang baru.

Yukio Hatoyama

Sebelum pemilu tahun 2003, DPJ menerbitkan menifesto kebijakan untuk menguraikan visi dan misi partai itu – dan ini adalah partai pertama yang memanfaatkan satu manifesto di Jepang – hasilnya adalah 177 kursi dari 480 kursi di parlemen.

Tetapi pemilu itu sendiri dimenangkan oleh ketua LDP yang karismatik, Junichhiro Koizumi, yang dua tahun kemudian mengubah peraturan dan mengumumkan pemilu lebih cepat.

Dia berkampanye dengan satu isu – swastanisasi kantor pos – dan membuat masyarakat khawatir dengan pemerintahan LDP dengan menggambarkan pemilu sebagai persaingan di dalam partai antara kubunya yang menginginkan reformasi dan kubu tradisionalis yang inginmempertahankan status quo yang tidak benar.

“Saat itu penekanannya adalah pada kepribadian,” ujar Koichi Nakano, pengamat politik dari Universitas Sophia, Tokho. “Koizumi dan LDP membajak media dengan berita soal persaingan antar individu.”

Dia menang besar – namun saat dia mundur dua tahun kemudian, tiga penggantinya mengundurkan diri karena gagal meyakinkan para pemilih mereka bisa mengatasi dua tantangan yang menghadap: krisis ekonomi dan perubahan demografi.

Taktik baru

Menjelang pemilu tahun ini, DPJ memimpin di depan dalam jajak pendapat namun lebih dari sepertiga pemilih belum memutuskan sikap.

Sementara pengeras suara dan jabat tangan masih menjadi alat kampanye sehari-hari, partai-partai itu juga mencoba berbagai cara baru untuk mendapatkan suara dukungan.

Profesor Nakano mengatakan partai-partai ini mencoba mengidentifikasikan isu utama dan mencari arti pemilihan umum bagi Jepang.

“DPJ mencoba mendefinisikan pemilu sebagai kesempatan untuk perubahan. LDP mencoba mengatakan bahwa partai ini adalah satu-satunya partai yang bertanggungjawab dan pemilih harus terus mempercayainya,” tambah Nakano.

Konsultan politik gaya Amerika juga semakin banyak dimanfaatkan untuk membantu kandidat dalam menembus kelompok tertentu, seperti kaum perempuan dan ibu.

Kebijakan pun didiskusikan; kedua partai telah mengeluarkan manifesto yang menyentuh masalah seperti pengeluaran untuk layanan kesehatan, reformasi pensiun, sampah pemerintah dan dana kesejahteraan anak-anak.

Kampanye Jepang
Kedua partai mencoba berbagai strategi baru kampanye

“Kini para pemilih harus mendengarkan partai yang ada, apa yang mereka tawarkan dan mempertimbangkannya sebagai faktor penentu,” ujar Soda.

Kampanye negatif – seperti kartun LDP itu – mulai bermunculan dan anggota parlemen LDP pun berulang kali menekankan bahwa DPJ terlalu hijau untuk bisa memerintah.

Namun sejumlah medium pemilihan umu terlalu terbatas. Selama kampanye resmi 12 hari, penggunaan internet – blogs, email, situs, Twitter – dilarang, mencegah para kandidat melaksanakan gaya kampanye ke kaum muda yang membuat Barack Obama terpilih sebagai presiden Amerika.

Pembatasan keras dalam penyeberan materi cetakan juga diterapkan, dan ini membuat para kandidat kesulitan menyampaikan rincian kampanye mereka kepada masyarakata.

Dan sementara dua partai terbesar habis-habiasn dalam kampanye, sejumlah partai kecil juga bekerja keras untuk mendapatkan suara warga yang tidak puas dan belum menentukan sikap.

New Komeito, rekan koalisi LDP, tampaknya akan tetap mendapat dukungan dari anggota organisasi Soka Gakkai Buddha. Partai Komunis, yang sekarang menjadi terbesar keempat di parlemen, bisa mendapat keuntungan besar akibat kelesuan ekonomi.

Partai-partai daerah dan sempalan partai besar ditambah satu kelompok baru, Partai Realisasi Kebahagiaan, yang ingin menggandakan populasi tahun 2030, juga ikut bertanding.

Soda memperkirakan jumlah warga yang mempergunakan hak mereka tanggal 30 Agustus mendatang akan tinggi.

“Ini bisa menjadi satu titik balik dalam sejarah demokrari Jepang,” uajrnya. “Jika ini bukan pemilu yang akan mendorong warga mempergunakan hak mereka, lalu apa ini?”

One thought on “Taktik baru kampanye Jepang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s