Hakim Terbaik di Indonesia Adalah Masyarakat


Gedung Mahkamah Agung (VivaNews/ Nurcholis Anhari Lubis)

Gedung Mahkamah Agung (VivaNews/ Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews – Direktur Regional untuk Program Asia dan Pasifik IDEA Internasional, Andrew Ellis menyatakan, hakim terbaik yang bisa menilai kekurangan dasar hukum (konstitusi) Indonesia adalah warga Indonesia sendiri.

Menurut Ellis keberadaan lembaga konstitusi seperti Mahkamah Konstitusi (MK) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) bisa menunjukkan hal-hal dalam konstitusi yang tidak berlangsung  semestinya. Kekurangan-kekurangan tersebut tentunya terbuka untuk diperdebatkan.

“Ketika masyarakat menilai, maka konstitusi bisa menjadi lebih sah,” kata Ellis dalam konfenresi pers menjelang Simposium Negara Berkembang mengenai Perancangan Konstitusi dalam Konteks Keberagaman dan Konflik di Asia, Senin 12 Oktober 2009.

Dalam menilai bagaimana lembaga-lembaga penunjang konstitusi, seperti MK dan DPD bekerja dan bekerja sama, menurutnya orang yang paling tepat untuk melakukannya adalah warga Indonesia yang memiliki lembaga konstitusional tersebut.

Simposium yang akan berlangsung dari 12 hingga 15 Oktober 2009 di Jakarta ini akan melibatkan 35 partisipan dari 19 negara dari Asia Pasifik, Eropa, Amerika Latin, dan Amerika Serikat yang akan berbagi pengalaman mengenai perubahan konstitusi di negara masing-masing.

Menurut Deputi Direktur Kerjasama Teknik Departemen Luar Negeri, Dinar Sinurat, pengalaman dari negara lain bisa digunakan untuk membenahi konstitusi di Indonesia.

Dinar menambahkan, Indonesia adalah contoh yang baik bagi negara lain karena telah berhasil membangun konstitusi dengan mengakomodasi berbagai kepentingan yang berbeda dari segenap lapisan masyarakat. Indonesia juga telah melalui proses demokrasi secara damai, bukan peperangan.

Dengan membagi pengalaman ini, kata Dinar, Indonesia akan memperoleh manfaat besar, yakni memunculkan citra positif Indonesia di mata dunia. “Dengan citra positif tersebut, maka orang akan tahu bahwa kita adalah negara yang mau belajar, kemudian dari segi bisnis misalnya, investasi akan datang karena keyakinan terhadap kita bertambah,” kata Dinar.

“Memang kita masih punya kekurangan, misalnya masih ada korupsi. Namun ada proses bergerak ke depan. Itu juga tambahan kepercayaan bagi kita,” kata Dinar.

Dinar menegaskan perkataan Ellis sebelumnya bahwa simposium ini bukan merupakan kesempatan untuk memasukkan nilai-nilai Barat. “Idenya adalah untuk mengetahui nilai-nilai yang muncul dari negara-negara berkembang partisipan ini, yang kurang lebih sama sehingga bisa saling memperbaiki dan kita jadi tahu mana yang salah dalam konstitusi masing-masing,” kata Dinar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s