Pengadilan Izinkan Kata Allah Bagi Non-Muslim


VIVAnews – Pengadilan Tinggi di Malaysia pekan lalu meluluskan permohonan suatu pengelola penerbitan media Katolik untuk kembali memakai kata “Allah” sebagai pengganti kata Tuhan dalam penerbitan buku dan referensi. Namun, pemerintah Malaysia kini mengajukan banding atas putusan pengadilan itu.

Selama ini, pemerintah Malaysia mengatur bahwa kata “Allah” tidak boleh digunakan untuk penerbitan buku dan referensi non-Muslim di negara itu. Itulah sebabnya, tahun lalu, Malaysia telah menyita belasan ribu kitab suci umat Kristen, Alkitab, yang diimpor dari Indonesia yang menggunakan kata “Allah.”

Namun, dalam sidang 31 Desember 2009, Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa kata “Allah” boleh digunakan untuk penerbitan media umat Katolik di Malaysia. Putusan ini terkait dengan gugatan yang diajukan pada akhir 2007 oleh The Herald, media penerbitan Gereja Katolik Roma di Malaysia.

Pengelola Herald saat itu keberatan dengan larangan pemerintah atas penggunaan kata “Allah” di media mereka, yang menggunakan bahasa Melayu dan dibaca oleh umat dari suku-suku lokal yang sejak lama memeluk agama Katolik.

Putusan pengadilan itu mendapat sambutan positif tak hanya dari kalangan rohaniwan Kristen, bahkan juga dari kalangan Muslim moderat. Mereka menilai keputusan ini sebagai kemenangan atas upaya diskriminasi institusional berbasis agama di Malaysia.

Namun, pemerintah mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tinggi itu. Kementrian Dalam Negeri juga meminta agar pemberlakukan putusan pengadilan bisa ditangguhkan hingga muncul putusan atas banding itu. Demikian ungkap pengacara pemerintah, Kamaluddin Mohammad.

Menurut pemerintah, Allah merupakan kata Islam dan bila digunakan oleh kaum lain bisa mengundang kesalahpahaman di kalangan umat Muslim. Bagi sebagian kalangan, penggunaan kata Allah oleh umat lain bisa disalahartikan sebagai upaya untuk membujuk umat Muslim masuk ke agama lain.

Namun, di manca negara, kata Allah sendiri juga digunakan oleh umat Kristen di negara-negara berbahasa Arab, seperti di Mesir dan Suriah.

Sementara itu, Deputi Perdana Menteri Muhyiddin Yassin, Senin 4 Januari 2010, meminta masyarakat untuk tidak resah. “Menurut saya, kita harus percaya kepada pemerintah dalam mengatasi masalah ini. Kami tidak ingin adanya situasi dimana putusan pengadilan menyebabkan kemarahan dan ketegangan antar etnis di negeri ini,” kata Yassin. (AP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s