Sejarah Islam di Kota Tuan Rumah Piala Dunia, Let’s See!


INDONESIA adalah negara Islam terbesar di dunia. Kiprah muslim di negeri ini tak hanya berkutat di dalam, tapi perannya juga menyebar hingga Afrika Selatan (Afsel).

Kedekatan agama ini di Afsel membuat jurnalis asal Indonesia yang memeluk Islam memudahkan mereka berkomunikasi. Dan, di salah satu kota tempat penyelenggaraan Piala Dunia 2010, Cape Town, sejarah Islam di sana ternyata tak lepas dari Indonesia.

Sesuai catatan sejarah di sana, orang Indonesia berperan besar mengumandangkan Islam di salah satu kota terbesar Afsel ini. Sampai sekarang, nama-nama penyiar Islam dari Nusantara diabadikan dalam berbagai prasasti. Banyak literatur menyebutkan, sejarah muslim yang lebih dikenal dengan sebutan The Cape Malay dimulai ketika Belanda menjadikan Cape Town sebagai pos dagang.

Lalu setelah itu makin kental setelah kolonisasi Tanjung Harapan oleh Dutch East Indies Company. Alasan mereka datang ke kawasan tersebut sama sepeti awal mereka datang ke Indonesia, yaitu berdagang. Namun, sedikit demi sedikit mereka menguasai kawasan tersebut dan menutup jalur perdagangan bagi pedagang-pedagang asal Arab dan Afrika Utara.

Muslim di Cape Town berasal dari beberapa negara seperti Madagaskar dan Indonesia. Kalau dari Indonesia, mayoritas dari Jawa. Sebab, dulu mereka dikirim Belanda sebagai budak. Setelah itu, menyusul kelompok muslim yang dibawa Belanda sebagai budak dari kelompok muslim Angola. Selain sebagai budak, muslim yang didatangkan Belanda juga banyak menjadi tahanan politik. Para tahanan itu dianggap membahayakan pemerintah kolonial Belanda.

Kemudian mereka menjadikan Cape Town sebagai tempat pengasingan atau pembuangan dari negara-negara yang dijajahnya, termasuk Indonesia. Salah satu tokoh yang dibuang Belanda ke Cape Town adalah Muhammad Yusuf Al- Makasari.Tokoh ini adalah ulama besar asal Makassar yang lebih dikenal sebagai Syeikh Yusuf.

Syeikh Yusuf diasingkan ke Robben Island tempat Nelson Mandela ditahan. Tapi, selain nama itu, ada juga beberapa tokoh asal Indonesia yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Mother City. Sebut saja Imam Abdullah Kadi Abdussalam. Penduduk muslim Cape Town mengenalnya sebagai tuan guru.

Jejak Abdullah terlihat di Masjid Auwal yang terletak di Drop Street 43. ”Masjid ini memang sudah mengalami beberapa kali renovasi. Tapi, masih ada yang tetap asli,” kata Ismail, penjaga Masjid Auwal, sambil menunjuk tumpukan batu layaknya fondasi rumah di Indonesia.

”Awalnya, masjidnya tak seluas ini, hanya selebar 3×6 m2, karena harus dibagi dengan madrasah.Tapi, setelah Islam berkembang, masjid kemudian direnovasi beberapa kali. Sebenarnya ada Alquran tulisan beliau, tapi sekarang tidak ada di sini. Beliau sebenarnya menuliskan ratusan Alquran berdasarkan hafalan yang dimilikinya,” tambah Ismail, di ruangannya sambil memperlihatkan foto salah satu Alquran tulisan tangan tuan guru.

Di ruangan Ismail ini jejak keterikatan antara Islam di Cape Town dan Indonesia terlihat jelas. Sebuah white board bertuliskan Nikaah dan Janazah. Sebuah kata yang sangat lazim di Indonesia. Sebuah jejak yang kecil, tapi sangat kentara. Nelson Mandela, tokoh terbesar Afsel, kabarnya juga belajar banyak dari tuan guru. (Muhammad Ma’ruf/Koran SI/fmh)

sumber:

http://pialadunia.okezone.com/read/2010/06/15/350/343052/sejarah-islam-di-cape-town

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s