Tak Semua Kota di Afsel Demam Piala Dunia


Afrika Selatan sedang menjadi pusat perhatian dunia, setelah menggelar event terakbar Piala Dunia 2010. Tapi, Piala Dunia 2010 tidak sepenuhnya mendapat tempat di Afsel. Berjarak sekitar 20km dari Cape Town, kota Langa, Nyanga, dan Mitchell Plain tak terlalu larut dalam euforia panggung terbesar sepakbola dunia.


Penunjukkan Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010 membuat negara ini memoles wajahnya sebaik mungkin. Kota-kota tempat pertandingan digelar dipoles sedemikian rupa. Jalan-jalan dibangun sebagus mungkin, termasuk membangun flay-over untuk mempermudah akses dari satu kota ke kota lainnya. Termasuk di Capetown, yang menjadi salah satu simbol kesuksesan pembangunan Afrika Selatan.

Setelah hampir tiga hari larut dalam pesta Vuvuzela, dan hanyut di aliran tiga warna bendera Afrika Selatan, sihir Piala Dunia 2010 tak sedahsyat di pusat kota. Di Langa, Nyanga, dan Mitchell Plain, Piala Dunia tidak terllau terasa.

Di sinilah tiga tempat dimana kemiskinan lebih berkuasa. Daerah, kekuasaan kulit berwarna di mana keamanan tidak 100 persen terjamin, terutama di Mitchell Plain yang dipenuhi gangster Afrika. Di sini, sebagian besar dari mereka memilih menggunakan bahasa daerah Africans.

Tidak ada hiruk pikuk tiupan Vuvuzela. Atribut bendera Afrika Selatan, atau orang yang menggenakan kaos timnas Bafana-Bafana hanya bisa dihitung dengan jari. Sangat kontras dengan area pusat kota Capetown. Mereka juga tidak bisa menyaksikan pertandingan sepak bola karena rumah mereka tak dialiri listrik, apalagi televisi. Untuk membeli tiket bus ke pusat kota juga menjadi hal yang mustahil.

Tak jauh berbeda dengan Langa. Daerah ini menarik karena di sinilah tempat berkumpulnya orang hitam dari berbagai negara. “Mereka memilih tinggal di sini, karena harga sewanya lebih murah. Satu bulan hanya 100 rand sampai 200 rand. Sementara di kota, kami harus mengeluarkan tidak kurang dari sampai 800 rand untuk tempat biasa,” terang Mvuyavi Mente yang membuka usaha wartel di dalam bak bekas peti kemas.

Langa berada di pinggiran Cape Town. Seperti kota-kota lain di Afrika, Langa menjadi salah satu tempat yang ditujukan bagi orang-orang kulit hitam sebelum masa apartheid. Di lokasi tersebut juga banyak orang-orang yang melakukan perlawan pada apartheid.

Dalam bahasa setempat, Langa bermakna matahari. Nama kota ini berasal dari Langalibalele, seorang pemimpin yang terkenal membawa kesuksesan tahun 1873. Namun akhirnya dia dipenjara di Robben Island karena melawan pemerintahan Natal.

Dia dinobatkan menjadi pahlawan dan untuk menghormatinya dibangun sebuah daerah pada tahun 1898 yang disebut Lokasi Langlibalele. Pintu masuk langa sering disebut “Kwa-Langa yang berarti tempatnya Langa. Sekarang Langa menjadi salah satu indikator tanda keramahan penduduk dan pencitraan instutusi Afrika.

Setelah itu perjalanan menuju Nyanga. Masuk kawasan ini bangunan rumah semipermanen dari kardus, kayu, bahkan plastik langsung menyambut. Rumah mereka dibangun di bawah aliran kabel dan tiang listrik (sutet) penyuplai energi ke pusat kota. Di Nyanga, pemerataan pembangunan tak sepenuhnya menyentuh mereka, sekalipun jaraknya tidak terlalu jauh dari Bandara Cape Town.

Nyanga berarti moon atau bulan. Daerah ini termasuk zona berbahaya terutama di malam hari. Selain rawan pencurian, sekitar 70 persen penduduknya menderita HIV/AIDS. “Banyak masyarakat di sini tidak bisa menyaksikan Piala Dunia, karena tidak punya uang untuk ke Grand Parade,” kata Joe Slovo.

Terakhir saya hanya berani melintasi Mitchell Plain. Sopir taksi yang mengatarkan saya berkeliling tak berani membawa masuk, karena inilah tempat paling berbahaya di Cape Town. Berjarak 20 km dari Mother City, Mitchell Plain menjadi rumah terbesar orang kulit berwarna, sekaligus township terbesar ke empat di Afrika Selatan setelah Khayelitsha, Soweto, dan East London. Sedangkan di Cape Town menjadi daerah terbesar kedua setelah Khayelitsha.

Mithcell Plain dihuni sekitar 1,2-1,9 juta penduduk. Di salah satu situs traveling, tempat ini masuk dalam zona berbahaya. Sopir taksi yang mengantar saya mengatakan, di daerah ini polisi tak memiliki kemampuan mengendalikan keadaan jika terjadi insiden. Karena itu, dia tak mengizinkan saya turun untuk bicara dengan salah satu orang yang sedang melintas.

“Di sini tempatnya gangster kulit hitam. Jika ada pembunuhan, polisi tidak akan bisa berbuat apa-apa. Karena itu tidak ada garansi keamanan, jika Anda tidak memiliki kenalan di daerah ini,” ujarnya.
(Muhammad Ma’ruf/Koran SI/zwr)

sumber:

http://pialadunia.okezone.com/read/2010/06/14/350/342652/tak-semua-kota-di-afsel-demam-piala-dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s