Ekspedisi 3 Waduk


Pada hari Sabtu tanggal 20 November 2010, kami, mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia Angkatan 2008 bersama dosen pembimbing Perancangan Infrstruktur Keairan (PIK) melakukan kegiatan ekskursi dengan tujuan waduk Cirata, waduk Jatiluhur, dan waduk Curug.

Perjalanan dimulai dari halte teknik pada pukul 7.00 WIB, molor 30 menit karena menunggu orang-orang yang terlambat. Kami menggunakan tiga unit bus pariwisata dengan tujuan pertama adalah Waduk Cirata. Melewati kawasan Plered, perjalanan ditempuh selama kurang lebih dua setengah jam atau sampai di tujuan pertama kira-kira pukul 9.30 WIB.

Memasuki gerbang utama, kami disambut dengan logo PLN. Ternyata waduk Cirata memiliki fungsi utama sebagai pembangkit listrik tenaga air yang kapasitas totalnya sekitar 1008 MW dan didistribusikan melalui system interkoneksi Jawa-Bali. Ketika kami keluar dari bus, kami disambut oleh teriknya matahari yang memaksa kami untuk memakai topi atau payung untuk menghindari kepanasan.

Berdasarkan keterangan yang didapatkan dari penjelasan Bapak Dedi, salah seorang petugas keamanan PLTA Cirata, waduk Cirata dikelola oleh PT PJB (Pembangkit Jawa Bali). Pengelolaannya dibagi menjadi dua, yaitu Unit Pembangkit dan Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC).

BPWC mengelola waduk dengan luas 6200 hektar dari luas lingkungan 7111 hektar. Waduk cirata terbagi di tiga daerah kabupaten, yaitu Bandung Barat, Purwakarta, dan Cianjur. Umur rencana waduk Cirata adalah 80 tahun, tetapi karena adanya beban akibat sampah masyarakat dan jaring terapung mengakibatkan Life-time berkurang menjadi 60 tahun saja. Menurut keterangan lebih lanjut, setiap lima tahun sekali terdapat sertifikasi kelayakan dari waduk Cirata.

Setelah mendapatkan keterangan dari petugas, kami dipersilakan masuk ke ruang kontrol waduk Cirata untuk melihat cara kerja, miniatur waduk, dan suasana keindahan Cirata dari atas gedung.

Waktu telah menunjukkan hampir pukul 12.00 WIB, kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya, yaitu Waduk Ir.H.Djuanda atau dikenal dengan Waduk Jatiluhur. Selama di perjalanan, kami menyempatkan diri untuk makan siang yang sudah disediakan.

Beberapa waktu kemudian, kami sampai di waduk Jatiluhur. Saya lupa melihat jam karena tidak sabar ingin melihat kebesaran waduk Jatiluhur. Kawasan waduk Jatiluhur dijadikan tempat wisata, hal ini terlihat semenjak dari gerbang masuk, terdapat kompleks penginapan dan penunjuk jalan menuju wahana-wahana hiburan air. Kami tidak menuju ke bagian tempat wisatanya, tetapi langsung menuju ‘jantung’-nya kompleks tersebut, yaitu waduk atau bendungan jatiluhur.

Ketika mulai memasuki kawasan waduk, terdapat gapura nama besar yang bertuliskan ‘Bendungan Utama Ir. H. Djuanda’ beserta informasi panjang, tinggi tower, dan tahun pembuatan. Bendungan Jatiluhur memiliki panjang 1200 meter, tinggi tower 114,5 meter, dan dibangun selama 10 tahun pada 1957 sampai 1967.

Bendungan Jatiluhur adalah bendungan terbesar di Indonesia. Bendungan itu dinamakan oleh pemerintah Waduk Ir. H. Juanda, dengan panorama danau yang luasnya 8.300 ha. Bendungan ini mulai dibangun sejak tahun 1957 oleh kontraktor asal Perancis, dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9 milyar m3 / tahun dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia.

Di dalam Waduk Jatiluhur, terpasang 6 unit turbin dengan daya terpasang 187 MW dengan produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahun, dikelola oleh PLN. Selain dari itu Waduk Jatiluhur memiliki fungsi penyediaan air irigasi untuk 242.000 ha sawah (dua kali tanam setahun), air baku air minum, budi daya perikanan dan pengendali banjir yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta II.

Membanggakan, karena pada awal pembangunannya kondisi keuangan negara saat itu yang baru memasuki era kemerdekaan sudah berhasil memulai proyek besar dengan SDM di bidang teknik yang juga masih sangat minim. Jadi, Jatiluhur merupakan proyek pengairan terbesar yang pernah dikerjakan bangsa ini dan ditangani langsung oleh teknisi-teknisi bangsa sendiri. Luhur, karena di sana terdapat bangunan-bangunan yang disimbolkan sebagai angka keramat bangsa Indonesia, yaitu 17-8-45. Ini merupakan kreasi seorang tokoh paling ber-peran dalam proyek ter-sebut, Prof. Dr. Ir. Sediyatmo.

Pompa hidrolik yang terkenal dengan paten atas namanya, untuk Saluran Tarum Barat berjumlah 17 buah. Pilar pemegang pintu pengatur untuk meneruskan aliran ke daerah Walahar beserta menaranya, berjumlah 8 buah. Sedangkan angka 45 ditunjukkan pada pembangunan pompa-pompa listrik untuk Saluran Tarum Timur, agar lebih efisien dan efektif, dibuat miring 45 derajat.

Bendungan Jatiluhur memiliki saluran pelimpah yang terbesar, diberi nama Morning Glory, memiliki diameter 90 m dan tingginya lebih dari 100 m. Bendungan Jatiluhur adalah bendungan dengan jenis urugan tanah yang membentang sepanjang 1,2 kilometer.

Masalah keramba jaring apung membuat kualitas air turun. Masyarakat yang menjaring ikan memberikan makanan ikan secara intentif sehingga ada makanan yang tidak dimakan oleh ikan yang akhirnya membusuk dan menyebabkan bau yang sangat tidak sedap. Sampah dari kerambah jaring apung sendiri menimbulkan pelapukan pada permukaan beton, korosi pada besi, namun sangat bermanfaat bagi tumbuhan yang ada karena kaya akan nitrogen. Perda mengaturnya dengan minimal jumlah kerambah jaring apung adalah 2000, namun faktanya berjumlah lebih dari itu.

Bendungan utama Jatiluhur pernah mengalami crack akibat diferential settlement, namun hal ini tidak berbahaya. Crack yang berbahaya adalah apabila terjdi melintang dan membuka jalan air. Sehingga bisa terjadi keruntuhan. Apabila bendungan ini mengalami keruntuhan, maka akan terjadi bencana mirip tsunami, yang akan merendam daerah karawang dengan air setinggi 13 meter.

Setelah puas melihat menara pelimpah terbesar secara langsung dan berfoto bersama, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan terakhir, yaitu waduk curug. Sebelumnya kami menunaikan ibadah sholat zuhur dan ashar di masjid kompleks wisata Jatiluhur.

Waduk Curug, atau bendung utama Curug terdapat di wilayah Kosambi Satu, Purwakarta. Bendung inilah yang membagi debit air ke tiga wilayah, yaitu tarum barat (Jakarta dan Bekasi), tarum utara (Pantai Utara), dan tarum timur. Fungsi dari bendung Curug adalah sebagai aliran air untuk PDAM dan pengaturan banjir sungai citarum.

Selanjutnya kami melihat pintu air yang berjumlah 7 dan mini hidro yang sedang menjalankan perawatan. Kami pun diajak untuk melihat pompa hidrolik yang ada di saluran tarum barat. Uniknya, jumlah pompa hidrolik ada 17 buah.

Tidak terasa hari sudah senja, waktu menunjukkan pokul 18.45 WIB. Kami kembali menuju bus untuk bersiap-siap kembali ke kampus UI Depok. Selama di perjalanan, kami melepaskan penat dan lelah seharian melakukan kunjungan ke tiga tempat sekaligus. Walaupun lelah, tetapi perjalanan ekskursi kali ini sangat mengesankan karena kami dapat belajar langsung ke lapangan, apalagi tiga waduk tersebut adalah bangunan vital yang dimiliki oleh negara Indonesia. Bahkan salah satunya, Bendungan Utama Jatiluhur, adalah bendungan terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Selain itu, Cirata, Jatiluhur, dan Curug memiliki peran penting tidak hanya wilayah Jawa Barat, tetapi juga terhadap Ibukota Jakarta dan sekitarnya untuk ketersediaan air PDAM. Ketiga waduk tersebut juga sangat berperan dalam kelistrikan nasional karena menghasilkan dan mengalirkan listrik interkoneksi Jawa-Bali.

One thought on “Ekspedisi 3 Waduk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s